JOMBANG – Permasalahan banjir musiman kembali melanda wilayah pinggiran Kabupaten Jombang.
Dusun Pojok, Desa Pojokklitih, Kecamatan Plandaan, kembali terendam luapan air pada Senin (30/03/2026).
Hingga saat ini, belum ada langkah konkret atau solusi permanen dari pemerintah daerah untuk mengatasi persoalan yang telah menjadi langganan setiap musim penghujan tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan informasi yang dihimpun, intensitas hujan yang tinggi sejak siang hari memicu kenaikan debit air yang kemudian meluap ke permukiman dan akses jalan desa. Air mulai menggenangi kawasan tersebut sekitar pukul 17.00 WIB dengan ketinggian yang bervariasi.
Ketinggian genangan air dilaporkan antara 10 hingga 30 sentimeter. Luapan air merendam badan jalan utama desa dan mulai masuk ke sebagian rumah warga.
Kondisi geografis desa yang berada di wilayah Kecamatan Plandaan membuat mobilitas warga terganggu setiap kali debit air meningkat.
Hingga berita ini diturunkan, kondisi cuaca di lokasi dilaporkan masih turun hujan, yang memicu kekhawatiran warga akan terjadinya peningkatan ketinggian air.
As’ad (32), salah seorang warga setempat, menjelaskan bahwa banjir kali ini bukan merupakan fenomena baru, melainkan kejadian berulang setiap tahun.
Ia menyebutkan bahwa warga seringkali tidak sempat mengantisipasi kedatangan air karena proses luapan yang berlangsung cepat.
“Jam lima sore tadi air sudah tinggi, sudah banjir. Perkiraan mulai naik sekitar pukul 16.30 WIB. Sampai sekarang kondisi air belum surut, malah ini hujan lagi,” ujar As’ad saat dikonfirmasi.
Ia menambahkan bahwa meski air kerap merendam jalanan dan rumah, warga hingga kini masih meraba-raba penyebab pasti dari kegagalan sistem drainase atau penyerapan air di wilayah mereka.
Belum adanya pemetaan teknis yang jelas dari pihak terkait membuat banjir terus berulang setiap musim hujan tiba.
Kini warga hanya meminta persoalan banjir di Dusun Pojok ini segera teratasi, lambatnya respons infrastruktur dari Pemerintah Kabupaten Jombang membuat warga terus dirugikan.
Disisi lain, ketidakpastian mengenai penyebab teknis banjir, apakah akibat pendangkalan sungai, buruknya drainase desa, atau faktor kiriman dari wilayah hulu, menjadi momok warga yang terus menghantui.
Warga mendesak adanya kajian teknis yang mendalam agar Dusun Pojok terlepas dari ancaman banjir yang terus mengganggu aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat desa.
Hingga saat ini, warga hanya bisa bertahan dengan kondisi apa adanya sembari berharap intensitas hujan segera menurun agar genangan di akses jalan dan rumah mereka dapat segera surut.
“Ya bagaimana lagi, kita menunggu solusi pemerintah semoga segera surut juga,” pungkasnya.















