JOMBANG – Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Jawa Timur bereaksi keras atas insiden keracunan massal yang menimpa puluhan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Sholawat Darut Taubah, Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang pada Kamis (5/3/2026) lalu.
Sekretaris Jendral (Sekjen) Komnas PA Jawa Timur, Jaka Prima, mendesak pemerintah daerah segera melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Kabupaten Jombang.
Langkah ini dipicu oleh temuan lapangan yang menunjukkan beberapa SPPG di Jombang diduga belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jaka mempertanyakan legalitas dan standarisasi klinis operasional penyedia Makanan Bergizi Gratis (MBG) tersebut.
“Kami mempertanyakan keseriusan SPPG dalam melayani anak-anak. Jangan sampai para santri dijadikan kelinci percobaan tanpa mempertimbangkan keamanan dan kesehatan pangan. Kami menuntut audit total mencakup kelayakan dapur, asal-usul bahan, hingga proses distribusi,” tegas Jaka saat dikonfirmasi, Minggu (8/3/2026).
Ia juga meminta pemerintah daerah, BGN hingga aparat penegak hukum untuk memberikan sanksi pemberhentian total bagi SPPG yang terbukti lalai atau sengaja mengabaikan syarat operasional. Artinya, aoabila ada celah pidana maka pihak SPPG harus menerima sanksi sesuai undang-undang.
Peristiwa tragis ini bermula pada Kamis (5/3/2026) saat waktu berbuka puasa. Sedikitnya 40 santri yang terdiri dari 30 santri putri dan 10 santri putra jenjang SMP/SMA mengalami gejala akut berupa mual, muntah, hingga pingsan sesaat setelah menyantap hidangan.
Pengasuh Ponpes Sholawat Darut Taubah, Muhammad Adam, menjelaskan bahwa santri mengonsumsi kombinasi menu internal (nasi rawon) dan paket MBG dari SPPG Desa Betek yang berisi roti, susu, kacang, kurma, dan telur asin.
“Gejala muncul sangat cepat, bahkan sebelum proses makan selesai. Awalnya saya kira maag biasa, tapi jumlah korban terus bertambah hingga ada yang pingsan,” ungkap Adam.
Seluruh korban segera dievakuasi menggunakan ambulans ke RS PKU Muhammadiyah Mojoagung.
Kecurigaan kuat mengarah pada telur asin yang disuplai oleh SPPG. Berdasarkan observasi pihak pesantren, santri yang hanya mengonsumsi nasi rawon olahan ponpes tidak mengalami gejala apa pun.
“Indikasinya ada pada telur asin. Santri yang muntah mengeluarkan materi telur asin, sementara yang tidak makan telur tersebut kondisinya bugar,” tambah Adam.
Data medis mencatat dari 84 populasi santri di asrama, hampir separuhnya harus mendapatkan perawatan intensif. Hingga Jumat (6/3/2026) kemarin, sebagian besar santri telah stabil.
Kapolres Jombang, AKBP Ardi Kurniawan, mengonfirmasi bahwa pihaknya bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) telah melakukan olah TKP dan mengamankan sejumlah sampel, termasuk sisa makanan dan sampel muntahan korban.
Meskipun rapid test awal tidak menunjukkan kandungan zat kimia berbahaya seperti sianida atau arsenik, Dinkes Jombang kini fokus pada uji mikrobiologi di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Jawa Timur di Surabaya.
“Kami memerlukan uji kultur bakteri untuk memastikan sumber kontaminasi. Proses laboratorium ini diperkirakan memakan waktu sekitar 10 hari hingga hasil valid keluar,” jelas Kepala Dinkes Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada.















