JOMBANG — Alun-Alun Jombang mendadak menjadi panggung tamparan keras bagi penguasa saat ratusan mahasiswa memadati kawasan di depan Pendopo Kabupaten Jombang, Rabu (20/5/2036) malam.
Mengangkat tajuk provokatif Seruan Aksi Keterpurukan Nasional 2026, demonstrasi damai yang dimotori oleh Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Jombang ini sukses menelanjangi rentetan kegagalan potret negara hari ini langsung di hadapan pusat kekuasaan daerah.
Aksi ini sengaja membalikkan narasi usang perayaan seremonial nasional dengan menyuguhkan realitas pahit: ekonomi yang mencekik, hukum yang tebang pilih, hingga eksploitasi rakyat jelata yang kian ugal-ugalan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Struktur gerakan yang dibangun PMII Jombang malam itu terbilang berani dan menantang arus. Di saat ruang-ruang akademik di berbagai daerah mulai dikebiri, mahasiswa justru menjebol ruang publik melalui diskusi terbuka dan pemutaran film dokumenter bertajuk Pesta Babi, sebuah sinema kritis yang membedah luka menganga sejarah, ketimpangan pendidikan, serta penjarahan sumber daya alam di Papua.
Langkah ini bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah arogansi intelektual yang sengaja dipertontonkan untuk melawan represi terhadap kebebasan berpendapat.
“Banyak kasus pembubaran pemutaran film di berbagai daerah. Kami berharap malam ini masyarakat Jombang bisa menonton bersama di ruang terbuka dengan aman dan terbuka,” cetus Ketua PC PMII Jombang, Suhalif Hosaini, menantang tren pembungkaman ekspresi yang marak belakangan ini.
Mimbar bebas di jantung kota tersebut secara tajam memetakan sejumlah krisis multidimensi yang gagal dimitigasi oleh pemerintah pusat maupun daerah sepanjang tahun 2026.
Di bawah sorot lampu Alun-Alun, para orator secara bergantian menembakkan kritik lugas tanpa kompromi:
Krisis Ekonomi Kronis: Melonjaknya harga kebutuhan pokok yang tidak berbanding lurus dengan daya beli masyarakat, diperparah oleh nilai tukar rupiah yang kian melemah.
Represi Aparat: Maraknya kriminalisasi terhadap warga negara yang vokal dan kritis.
Penjarahan Ekologis: Kerusakan lingkungan masif akibat hutan yang dikomodifikasi (dikebiri) dan akses laut yang diprivatisasi demi kepentingan oligarki (dipagari).
Eksploitasi Publik: Kebijakan negara yang dinilai hanya menempatkan rakyat sebagai “sapi perah” penopang syahwat kekuasaan.
Tidak berhenti pada retorika dan kecaman di atas podium, kelompok mahasiswa ini juga menampar apati publik dengan membuka penggalangan donasi kemanusiaan untuk Papua selama acara berlangsung.
Langkah nyata ini diambil sebagai bentuk tamparan moral atas ketimpangan pembangunan struktural dan pembiaran persoalan sosial yang masih menjerat wilayah paling timur Indonesia tersebut.
Melalui aksi yang berlangsung dari pukul 20.00 WIB hingga tuntas ini, mahasiswa Jombang berhasil membuktikan bahwa alun-alun bukan sekadar tempat rekreasi murah, melainkan episentrum perlawanan akal sehat yang menolak tunduk pada narasi normalisasi keterpurukan bangsa.















