JOMBANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jombang hingga kini belum mampu mengungkap tabir di balik dugaan keracunan massal yang menimpa puluhan santri di salah satu pondok pesantren setempat.
Meski hasil uji cepat (rapid test) dinyatakan negatif, pihaknya masih menggantungkan kepastian penyebab insiden ini pada hasil laboratorium formal yang memakan waktu hingga 10 hari.
Kepala Dinkes Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, menyebut bahwa seluruh sampel mulai dari sisa makanan berupa rawon dan telur, sampel air lingkungan pondok, hingga muntahan korban, baru dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya pada Jumat (6/3/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan pemeriksaan awal menggunakan metode quick test, Dinkes mengeklaim tidak menemukan unsur kimia berbahaya dalam makanan yang dikonsumsi para santri.
“Hasil rapid test terhadap parameter Arsen, Formalin, Sianida, dan Nitrit menunjukkan hasil negatif. Namun, ini baru pemeriksaan kimiawi pada kondisi makanan yang masih relatif baru,” ujar Hexawan saat ditemui di RS PKU Muhammadiyah Mojoagung.
Meski parameter kimiawi bersih, Dinkes kini membidik kemungkinan kontaminasi biologis atau bakteriologis. Namun, publik harus bersabar. Metode uji kultur yang dilakukan di BBLK Surabaya memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk mencapai konklusi medis.
“Pemeriksaan laboratorium kultur membutuhkan waktu minimal 10 hari sampai hasilnya keluar,” tambahnya.
Kini persoalan serius tertuju pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selaku penyedia konsumsi. Hexawan menyebut, berdasarkan keterangan pihak SPPG, telur yang diduga menjadi pemicu gangguan kesehatan tersebut baru didistribusikan pada hari kejadian. Kendati demikian, validitas klaim ini masih dipertanyakan mengingat puluhan santri mengalami gejala klinis serupa secara bersamaan.
“Kami belum bisa menyimpulkan penyebab pastinya, apakah murni dari faktor makanan pondok atau faktor eksternal lainnya. Saat ini fokus masih pada penanganan darurat,” pungkas Hexawan.















