JOMBANG – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jombang resmi menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) ke-31 pada Sabtu (23/5/2026).
Forum tertinggi di tingkat cabang ini mengusung tema besar Arah Baru HMI Jombang yang berfokus pada revitalisasi nalar kritis dan peningkatan produktivitas kader untuk satu periode ke depan.
Selain sebagai momentum estafet kepemimpinan dan konsolidasi organisasi, Konfercab kali ini menjadi panggung penegasan komitmen dari para alumni yang tergabung dalam Korps Alumni HMI (KAHMI) Jombang untuk mengawal arah gerak organisasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mewakili Koordinator KAHMI Jombang, Maulana Syahiduzzaman yang akrab disapa Gus Maman menyatakan bahwa tema Arah Baru HMI Jombang sengaja diangkat untuk merespons dinamika nasional maupun global.
Menurutnya, isu geopolitik yang belakangan memicu aksi turun ke jalan harus disikapi dengan kualitas nalar gerakan yang lebih matang.
“Peningkatan nalar kritis ini akan disemangati lagi di perkaderan cabang. Ke depan, dosisnya (nalar kritis) akan lebih kritis lagi,” tegas Gus Maman kepada, Sabtu (23/5/2026).
Gus Maman menambahkan, alumni menaruh harapan besar agar HMI Cabang Jombang dapat bertransformasi menjadi organisasi yang lebih maju dan inovatif.
“Kita alumni berharap Cabang bisa lebih eksis lagi, lebih produktif, dan menjadi rujukan para mahasiswa untuk berorganisasi,” imbuhnya.
Senada dengan Gus Maman, perwakilan alumni lainnya, Medan Amrullah, menekankan bahwa kehadiran para senior dalam forum Konfercab ini bukan sekadar menghadiri agenda seremonial tahunan.
Kehadiran mereka merupakan wujud dari ikatan emosional dan tanggung jawab moral antargenerasi.
Alumni berkomitmen penuh memastikan HMI Cabang Jombang tetap konsisten berada di garda terdepan sebagai organisasi perjuangan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Melalui momentum Konfercab ke-31 ini, jajaran pengurus baru yang nantinya terpilih diamanatkah untuk membawa HMI Jombang ke arah yang lebih substantif.
Evaluasi dan perumusan struktur baru ini diharapkan melahirkan kepemimpinan yang tidak hanya berfokus pada kuantitas jumlah kader, tetapi juga pada kematangan kualitas intelektual serta dampaknya bagi gerakan sosial kemasyarakatan.















