PAMEKASAN – Guna memutus jarak ketimpangan digital antara wilayah perkotaan dan perdesaan, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 13 Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) melakukan modernisasi sektor usaha di pelosok Kabupaten Pamekasan. Melalui aksi nyata di lapangan, mereka berhasil mendampingi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Cenlecen, Kecamatan Pakong, untuk beralih menggunakan sistem pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Program standardisasi transaksi nontunai ini menyasar para pelaku UMKM yang tersebar merata di enam dusun di desa tersebut. Langkah serentak ini diambil untuk memastikan seluruh pelaku usaha mikro di setiap pelosok Desa Cenlecen dapat menikmati kemudahan teknologi finansial dan siap bersaing di era digital.
Koordinator Desa KKN UTM Desa Cenlecen, Mohamad Wahyudi, menjelaskan bahwa pemetaan wilayah ke enam dusun sengaja dilakukan agar program digitalisasi ini merata dan tidak hanya berpusat di satu titik desa saja.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami membagi tim untuk menyisir UMKM di 6 dusun yang ada di Desa Cenlecen. Tantangan di tiap dusun berbeda, namun semangat warga untuk belajar sangat tinggi. Kami mendampingi mereka mulai dari penyiapan berkas, pendaftaran, hingga barcode QRIS resmi tercetak dan siap pakai,” ujar Mohamad Wahyudi.
Melalui pendekatan personal dari rumah ke rumah (door-to-door), mahasiswa KKN UTM mengedukasi pedagang kelontong dan pemilik warung mengenai manfaat praktis QRIS. Sistem ini dinilai ampuh mengatasi masalah klasik yang sering dihadapi pedagang, seperti kesulitan menyediakan uang kembalian, risiko peredaran uang palsu, hingga pencatatan keuangan yang berantakan.
Langkah taktis mahasiswa ini mendapat respons positif dari pemangku kebijakan setempat. Kepala Desa Cenlecen, Amin Yasid, memberikan apresiasi tinggi atas kerja keras para mahasiswa yang bersedia menjangkau seluruh dusun di wilayahnya.
“Kami sangat berterima kasih karena mahasiswa KKN UTM mau turun langsung ke 6 dusun di Desa Cenlecen. Ini adalah langkah nyata yang sangat membantu warga kami untuk melek teknologi finansial, sehingga ekonomi di tiap dusun bisa tumbuh bersama,” ungkap Amin Yasid.
Kelompok 13 KKN UTM menaruh harapan besar agar implementasi QRIS ini menjadi awal baru bagi peningkatan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi warga Desa Cenlecen. Melalui digitalisasi ini, para pelaku UMKM diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar mereka, sehingga mampu melayani pembeli dari luar daerah tanpa terkendala metode pembayaran.
Selain memperluas pasar, sistem nontunai ini memberikan jaminan keamanan dalam bertransaksi sehari-hari. Risiko kriminalitas atau kerugian akibat uang palsu dapat diminimalisir karena seluruh dana hasil penjualan langsung masuk ke rekening bank pedagang secara aman.
Lebih dari itu, rekam jejak transaksi yang tercatat otomatis di aplikasi QRIS diharapkan mampu mendidik warga untuk memiliki manajemen keuangan yang lebih sehat, teratur, dan terpisah dari uang pribadi.
Dengan adanya standardisasi pembayaran digital di enam dusun ini, KKN UTM berharap Desa Cenlecen dapat tumbuh menjadi pelopor desa digital yang mandiri di Kecamatan Pakong. Gerakan ini sekaligus menjadi bukti nyata bahwa masyarakat desa mampu beradaptasi dan berdaya di tengah pesatnya perkembangan teknologi keuangan modern.















