JOMBANG — Penantian panjang yang dibalut kecemasan selama hampir dua pekan akhirnya menemui titik akhir.
Surono (32), warga Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, yang sebelumnya dinyatakan hilang dalam tragedi tenggelamnya KM Virgo Transport 8, dipastikan telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Korban ditemukan pada Minggu (27/9/2026) malam, tepat pada hari ke-13 setelah kapal nahas tersebut terbalik dan tenggelam di perairan Laut Jawa pada 13 September 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jenazah almarhum tiba di kampung halamannya untuk dimakamkan pada Selasa (29/9/2026).
Kabar duka ini diterima pihak keluarga pada Minggu malam selepas magrib melalui koordinasi bersama aparat kepolisian dan tim Disaster Victim Identification (DVI).
Ari Supriyatin, adik ipar korban, menceritakan bagaimana pihak keluarga awalnya mengenali jasad melalui foto yang beredar di grup komunikasi Basarnas.
Firasat keluarga langsung menguat tatkala mencermati sejumlah ciri fisik yang sangat spesifik.
Selain bentuk postur dan struktur kaki yang dikenali, terdapat penanda fisik yang tak terbantahkan, yakni tato berbentuk belati di tangan kanan serta kondisi gigi korban yang memiliki bagian tanggal.
Keyakinan tersebut kian sempurna tatkala petugas menemukan barang-barang pribadi yang masih melekat pada korban.
Sebuah dompet berisi kartu identitas, kartu ATM atas nama Surono, serta karcis perjalanan menjadi bukti otentik yang mengakhiri segala spekulasi.
“Melihat dari bentuk badan, bentuk kaki-kakinya, kita punya insting bahwa salah satu dari foto itu kakak saya. Di dalam dompet juga ada ATM atas nama kakak saya, identitas, sama karcis perjalanan,” ujar Ari saat ditemui di rumah duka, Selasa (29/9/2026).
Di balik musibah besar ini, tersimpan kisah pilu dari seorang pekerja sektor logistik. Surono diketahui kesehariannya bekerja sebagai kernet truk pengangkut sayur. Dalam pelayaran maut tersebut, ia tidak sendirian; Surono berangkat bersama sang sopir, Yahya, yang beruntung berhasil selamat dari insiden maut di tengah Laut Jawa tersebut.
Bagi keluarga, meski kepulangan Surono harus disambut dalam balutan duka mendalam, ada rasa syukur yang besar karena penantian tanpa kepastian telah berakhir. Setidaknya, pihak keluarga dapat menunaikan kewajiban moral terakhir untuk mengantar almarhum ke tempat peristirahatan terakhirnya secara layak.
“Dari pihak keluarga mengucapkan terima kasih kepada Basarnas yang sudah menemukan keluarga saya, walaupun dalam keadaan tidak panjang umur. Yang penting kita bisa memberikan penghormatan terakhir kepada kakak saya, dan semoga mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan,” pungkas Ari.















