Dinkes Jombang Lamban? Kepastian Penyebab Keracunan Puluhan Santri Tunggu Uji Lab 10 Hari

- Penulis

Jumat, 6 Maret 2026 - 07:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Dinkes Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada saat diwawancarai wartawan. (Ist/MITRAMEDIA)

Kepala Dinkes Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada saat diwawancarai wartawan. (Ist/MITRAMEDIA)

JOMBANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jombang hingga kini belum mampu mengungkap tabir di balik dugaan keracunan massal yang menimpa puluhan santri di salah satu pondok pesantren setempat.

Meski hasil uji cepat (rapid test) dinyatakan negatif, pihaknya masih menggantungkan kepastian penyebab insiden ini pada hasil laboratorium formal yang memakan waktu hingga 10 hari.

Kepala Dinkes Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, menyebut bahwa seluruh sampel mulai dari sisa makanan berupa rawon dan telur, sampel air lingkungan pondok, hingga muntahan korban, baru dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya pada Jumat (6/3/2026).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan pemeriksaan awal menggunakan metode quick test, Dinkes mengeklaim tidak menemukan unsur kimia berbahaya dalam makanan yang dikonsumsi para santri.

“Hasil rapid test terhadap parameter Arsen, Formalin, Sianida, dan Nitrit menunjukkan hasil negatif. Namun, ini baru pemeriksaan kimiawi pada kondisi makanan yang masih relatif baru,” ujar Hexawan saat ditemui di RS PKU Muhammadiyah Mojoagung.

Baca Juga  Kopi Excelsa dan Ketan Durian Wonosalam Bikin Rindu

Meski parameter kimiawi bersih, Dinkes kini membidik kemungkinan kontaminasi biologis atau bakteriologis. Namun, publik harus bersabar. Metode uji kultur yang dilakukan di BBLK Surabaya memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk mencapai konklusi medis.

“Pemeriksaan laboratorium kultur membutuhkan waktu minimal 10 hari sampai hasilnya keluar,” tambahnya.

Kini persoalan serius tertuju pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selaku penyedia konsumsi. Hexawan menyebut, berdasarkan keterangan pihak SPPG, telur yang diduga menjadi pemicu gangguan kesehatan tersebut baru didistribusikan pada hari kejadian. Kendati demikian, validitas klaim ini masih dipertanyakan mengingat puluhan santri mengalami gejala klinis serupa secara bersamaan.

“Kami belum bisa menyimpulkan penyebab pastinya, apakah murni dari faktor makanan pondok atau faktor eksternal lainnya. Saat ini fokus masih pada penanganan darurat,” pungkas Hexawan.

Follow WhatsApp Channel mitramedia.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ramai Peserta PBI Dinonaktifkan, Ini Tanggapan BPJS Kesehatan
Direktur Baru, Pelayanan RSUD Jombang Kembali Dikeluhkan
Makanan Basi dan Susu Kadaluarsa pada MBG di Jombang, Ancaman Hukum Menanti Pihak SPPG
Nasi Basi, Jeruk Berulat hingga Susu Kadaluarsa, Kisah Pilu di Balik Program MBG di Jombang

Berita Terkait

Jumat, 6 Maret 2026 - 07:43 WIB

Dinkes Jombang Lamban? Kepastian Penyebab Keracunan Puluhan Santri Tunggu Uji Lab 10 Hari

Kamis, 5 Februari 2026 - 07:07 WIB

Ramai Peserta PBI Dinonaktifkan, Ini Tanggapan BPJS Kesehatan

Senin, 22 September 2025 - 10:02 WIB

Direktur Baru, Pelayanan RSUD Jombang Kembali Dikeluhkan

Kamis, 4 September 2025 - 10:56 WIB

Makanan Basi dan Susu Kadaluarsa pada MBG di Jombang, Ancaman Hukum Menanti Pihak SPPG

Rabu, 3 September 2025 - 19:00 WIB

Nasi Basi, Jeruk Berulat hingga Susu Kadaluarsa, Kisah Pilu di Balik Program MBG di Jombang

Berita Terbaru